Rela.


Pagi ini, semuanya dikejutkan dengan kabar duka yang dialami oleh keluarga Nafardhan, bagaimana bisa Shaka pergi begitu saja padahal sebentar lagi ia akan menikah.

Shaka mengalami kecelakaan lalu lintas saat pulang kerja, motornya tertabrak oleh mobil yang melaju kencang di belakangnya. Kabarnya, sang supir mabuk saat berkendara.

Tidak adil, sang pelaku penabrakan hanya mengalami luka ringan sementara Shaka. Ia meninggal saat di larikan ke rumah sakit terdekat.

Dan disinilah Hazelio berada, di tempat peristirahatan terakhir Shaka. Tempat Pemakaman Umum. Semuanya menangis saat melihat peti Shaka dimasukan ke dalam tanah. Ia pun menenangkan Segara yang terus-terusan memanggil nama kakak pertamanya itu, Hazelio tahu, kekasihnya itu sangat menyayangi Shaka.

aa

“ikhlas ya ega? kasian a shaka nanti sedih kalo liat ega kayak gini”

ega sayang a shaka

“iya ega, a shaka juga sayang ega makanya ega harus tabah ya?”

gak bisa, a shaka belum nepatin janji. a shaka mau sun ega pas dinikahannya nanti

Mungkin di telinga orang lain terdengar sangat konyol, namun bagi Hazelio ucapan Segara sangat menyedihkan. Shaka pergi dengan janji yang belum ia tepati.

Berbeda dengan Segara, Sekala hanya berdiam diri di makam orang lain. Ia tak sanggup untuk melihat kakak pertamanya masuk ke dalam tanah. Dunianya merasa hancur, ia baru saja dilanda masalah dengan Jelio dan sekarang ia harus merelakan kepergian Shaka yang begitu mendadak.

Bukan hanya Hazelio, Jelio juga disana bersama Hilmy. Teman-teman sekolahnya pun hadir dalam pemakaman tersebut. Jelio melihat teman-teman yang lain menenangkan Segara, namun tak ada satupun yang menenangkan Sekala.

Jelio tahu, di balik wajah tenangnya itu. Sekala juga menyimpan rasa sakit yang amat dalam. Ia ingin sekali menghampiri dan menenangkan pria bersurai hitam itu. Namun Jelio tak berani, ia masih mengingat perlakuan kurang ajar Sekala kemarin sore.

kalo mau samperin, samperin aja. dia butuh lo” ujar Hilmy.

“enggak”

dia rapuh je, dia butuh lo. kalo lo masih belum bisa maafin dia soal kemarin gapapa, asal sekarang lo bikin dia tenang dulu. saat ini rasa kemanusiaan lo lebih penting daripada kemarahan lo ke dia

Jelio mengerti, tak seharusnya ia memikirkan kejadian kemarin sore disaat seperti ini. Hilmy benar, Sekala membutuhkannya. Dengan perlahan, Jelio menghampiri Sekala dan duduk di sebelahnya.

“kalo mau nangis, nangis aja jangan ditahan”

enggak, gue gapapa

“gue tau lo pasti ngerasa kehilangan banget, luapin aja semuanya kayak ega. ada gue disini”

enggak je, gue gapapa

“ada gue disini kal, gue disini buat lo”

Pertahanan Sekala runtuh, kini ia memeluk Jelio dan menumpahkan semua air mata yang sudah ia tahan sejak kemarin sore.

maaf gue lancang peluk lo, gue butuh-

“ini bukan waktunya lo minta maaf, peluk gue sepuasnya sampe lo ngerasa tenang” ujar Jelio sembari mengelus punggung Sekala.

gue gak punya siapa-siapa lagi je, orang yang selalu bantu gue dan selalu ada disaat gue butuh udah pergi

gue gak tau sekarang harus cerita ke siapa lagi, gue belum rela kehilangan a shaka

“lo masih punya ayah cakra, ega, zetta, zidan, hilmy, gue juga. lo kalo mau cerita bisa lari ke mereka atau ke gue”

Dada Jelio merasa sesak melihat Sekala serapuh ini, disaat seperti ini pun orang-orang tidak ada yang melihat keberadaannya, tidak ada yang berniat menenangkannya. Tanpa sadar ia pun ikut meneteskan air matanya dan berbisik. “gue disini kal, sampe kapanpun gue bakal terus disini karena gue sayang sama lo”

'mau lo terus-terusan nyakitin gue juga, gue gak masalah karena gue udah terlanjur cinta. gue sayang banget sama lo, sekala rafardhan' ucap Jelio dalam hati.